Langsung ke konten utama

Eagle Eye

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Salah satu film paling menarik yang gue tonton tahun ini. Mengangkat tema gila dengan visualisasi yang nggak kalah gila! A must seen one I must say.

Film yang diproduseri oleh Steven Spielberg ini mengangkat tema intelijen tingkat tinggi dengan dua tokoh utama. Jerry Shaw hanyalah seorang teknisi di sebuah ”bengkel” reparasi mesin foto kopi di kota Chicago. Sementara di tempat lain Rachel Holloman menikmati hidupnya sebagai single parent sekaligus pengacara.

Namun sebuah telpon misterius di suatu malam membuat hidup keduanya berubah diliputi rasa cemas dan ketakutan. Setelah dipertemukan telpon misterius itu mereka harus menjalani hidup selayaknya buronan. Kejar2an seru dengan FBI membawa mereka pada sebuah kenyataan, kerja intelijen tingkat tinggi yang mencengangkan.

Secara tema boleh dibilang film ini bikin gue terkesima. Nggak kebayang kalo sampe teknologi intelijen seperti ARIA beneran kejadian. Ngebayangin hidup di sebuah negara dimana warga negaranya nggak diberi privasi barang sedikit.

Secara visual, film ini bener2 manjain mata (penikmat film action). Adegan kejar2an vs FBI gila, deh! Belum lagi kejar2an dengan waktu di penghujung film. Kalo kata gue mah menguras emosi hehe.

Sementara secara penokohan Shia LeBeouf, Michelle Monaghan dan Billy Bob Thornton –tiga tokoh utamanya– lumayan juga. Shia dengan brewoknya kelihatan lebih dewasa dibandingkan terakhir ngliatnya di Disturbia atau Transformers. Billy Bob as an FBI agent? Ya udah pasti lebih oke lah dibandingkan peran jadi Presiden Amrik yang ”mata keranjang” di Love Actually.

Sedikit aja kekurangan film ini yaitu ending-nya yang Hollywood banget, deh. Lumayan ngebetein, tuw. Tapi, seperti biasa, jangan sampe review gue mematahkan semangat nonton. Lagipula film ini syeru banget kok.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jembatan Cinta

Menyebrang di depan kantor bukan pekerjaan mudah. Selain ada jalur-jalur busway, jalanan hampir selalu ramai dengan lalu-lalang kendaraan. Dan oleh karenanya ketika pulang kantor harus menyebrang maka gue memilih jembatan penyebrangan. Biar pegel dikit, yang penting aman Tapi entah kenapa walaupun penting keberadaannya jembatan penyebrangan di depan kantor itu sangat kurang nyaman. Gimana enggak, udah tinggi, gelap pulak. Satu lagi, fenomena yang baru gue perhatikan tadi malam, adalah banyaknya pasangan berpacaran di jembatan penyebrangan! Baru mo naik anak tangga pertama, mata gue langsung ngliat ada pasangan lagi mojok. Tadinya sih ngobrol tapi begitu gue lewat pada diem dan pura2 ngliat jalanan. “Ngapain pacaran di jembatan,” pikir gue. Eh, barusan gue ngomong gitu gue liat lagi pasangan kedua lagi mojok di shelter-nya jembatan penyebrangan yang sama. “Paan seh, neh,” pikir gue lagi. Belum selesai begitu gue mo turun di sebrang gue liat lagi dong sepasang perempuan dan lelaki lagi n...

Sebuah Kata Bernama Takdir

Siang ini di kantor gue dikejutkan oleh SMS seorang temans soal temans lainnya. Isinya: "Mel, tolong umumin dong di milis klo Ratih kakaknya Wulan nggak jadi nikah Sabtu besok karena calonnya meninggal...." Reaksi pertama gue setelah baca jelas terkejut. Duh. Lalu sibuk meng-SMS balik dengan hati galau. Lalu melaksanakan permintaan Wiwi. Bayangin, pernikahan sedianya dilangsungkan tanggal 27 Oktober yang berarti dua hari dari sekarang. Dan beberapa minggu yang lalu pun secara nggak sengaja gue ketemu calon pengantin perempuan yang terdengar sangat bahagia dengan rencana-rencananya. Tapi Tuhan rupanya berkata lain. Ratih, if you ever read this writing, I am really sorry for your lost.

Music And Lyrics

Rating: ★★★ Category: Movies Genre: Comedy "Melodi itu seperti ketemu seseorang pertama kali. Itu adalah ketertarikan fisik. Seks. Tapi ketika kamu ingin mengenal seseorang lebih dalam, itulah lirik. Kombinasi keduanya yang membuat lagu punya magis.” Itulah secuplik kalimat yang nyantol di kepala setelah nonton Music and Lyrics, waktu iseng di akhir pekan. Dibintangi pasangan raja dan ratu genre drama komedi romatis, Hugh Grant dan Drew Barrymore, ekspektasi akan sebuah film yang paling nggak menyamai Wedding Singer membuncah. Sayang, yang terlihat adalah drama komedi romantis standar yang terpaksa gue kasih tiga bintang. Alex Fletcher, seorang penyanyi pop paruh baya yang karirnya mulai menurun. Sophie Fisher, seorang tukang urus tanaman yang memiliki bakat terpendam sebagai penulis lirik. Suatu saat, Fletcher, yang sedang berjuang untuk mengembalikan pamornya, diberi proyek membuat sebuah lagu buat seorang penyanyi muda yang sedang "naik daun". Nggak sanggup bikin send...