Langsung ke konten utama

Keadilan

Berita gres soal skandal suap sepakbola Italia ini langsung menyulut kekecewaan gue... apa2an sih ini?

Abis baca, komentar pertama gue (dalam hati saja) "Heloo..... where the hell is justice?" terus terang gue sepakat dengan pak menteri dan nggak rela kalau musim depan gak bisa ngliat beberapa pilar pertahanan Italia di televisi, but gue sangat rela kalau itu harus terjadi demi yang namanya KEADILAN. Biar pada jera tuh para pelaku suap! karena gara-gara mereka Seri-A yang dulunya enak ditonton jadi ajang sandiwara belaka yang semua-muanya udah diatur!

Udah dua musim terakhir gue ogah banget nonton Seri-A. Alasan pertamanya karena udah ngak punya favorit lagi setelah AC Parma kolaps (bahkan nyariis degradasi), kedua, karena para pemain kesayangan gue pada pindah ke Juventus! (aka klub yang paling gue benci setelah Manchester United), ketiga, karena para wasit yang ampun deh murah banget harganya.

Alasan keempat, dan mungkin paling fundamental, karena Juve gak punya saingan. Masih mending kalau gak punya saingannya karena mereka terlalu jago, lah ini, ngebeli wasit! meski udah dicurigai dari zaman dulu -walaudibantahabisabisansamajuve- tetap aja "borok" gak bisa ditutup-tutupin terus.

Dan thanks god keburukannya Juve terbongkar di akhir musim 2005-06. udah gitu pengadilan sudah menuntut mereka dan tiga klub lain (AC Milan, Lazio, Fiorentina) didegradasi ke B dan terparah C1. Tapi oalah! berita yang diatas bikin gue kecewa berat.

Woooi, masa maling dikasih ampunan, kapan kapoknya dong??!!


Note: Malingnya nggak dikasih ampun. Juventus pun terdegradasi ke Seri B. Hore!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jembatan Cinta

Menyebrang di depan kantor bukan pekerjaan mudah. Selain ada jalur-jalur busway, jalanan hampir selalu ramai dengan lalu-lalang kendaraan. Dan oleh karenanya ketika pulang kantor harus menyebrang maka gue memilih jembatan penyebrangan. Biar pegel dikit, yang penting aman Tapi entah kenapa walaupun penting keberadaannya jembatan penyebrangan di depan kantor itu sangat kurang nyaman. Gimana enggak, udah tinggi, gelap pulak. Satu lagi, fenomena yang baru gue perhatikan tadi malam, adalah banyaknya pasangan berpacaran di jembatan penyebrangan! Baru mo naik anak tangga pertama, mata gue langsung ngliat ada pasangan lagi mojok. Tadinya sih ngobrol tapi begitu gue lewat pada diem dan pura2 ngliat jalanan. “Ngapain pacaran di jembatan,” pikir gue. Eh, barusan gue ngomong gitu gue liat lagi pasangan kedua lagi mojok di shelter-nya jembatan penyebrangan yang sama. “Paan seh, neh,” pikir gue lagi. Belum selesai begitu gue mo turun di sebrang gue liat lagi dong sepasang perempuan dan lelaki lagi n...

Sebuah Kata Bernama Takdir

Siang ini di kantor gue dikejutkan oleh SMS seorang temans soal temans lainnya. Isinya: "Mel, tolong umumin dong di milis klo Ratih kakaknya Wulan nggak jadi nikah Sabtu besok karena calonnya meninggal...." Reaksi pertama gue setelah baca jelas terkejut. Duh. Lalu sibuk meng-SMS balik dengan hati galau. Lalu melaksanakan permintaan Wiwi. Bayangin, pernikahan sedianya dilangsungkan tanggal 27 Oktober yang berarti dua hari dari sekarang. Dan beberapa minggu yang lalu pun secara nggak sengaja gue ketemu calon pengantin perempuan yang terdengar sangat bahagia dengan rencana-rencananya. Tapi Tuhan rupanya berkata lain. Ratih, if you ever read this writing, I am really sorry for your lost.

Music And Lyrics

Rating: ★★★ Category: Movies Genre: Comedy "Melodi itu seperti ketemu seseorang pertama kali. Itu adalah ketertarikan fisik. Seks. Tapi ketika kamu ingin mengenal seseorang lebih dalam, itulah lirik. Kombinasi keduanya yang membuat lagu punya magis.” Itulah secuplik kalimat yang nyantol di kepala setelah nonton Music and Lyrics, waktu iseng di akhir pekan. Dibintangi pasangan raja dan ratu genre drama komedi romatis, Hugh Grant dan Drew Barrymore, ekspektasi akan sebuah film yang paling nggak menyamai Wedding Singer membuncah. Sayang, yang terlihat adalah drama komedi romantis standar yang terpaksa gue kasih tiga bintang. Alex Fletcher, seorang penyanyi pop paruh baya yang karirnya mulai menurun. Sophie Fisher, seorang tukang urus tanaman yang memiliki bakat terpendam sebagai penulis lirik. Suatu saat, Fletcher, yang sedang berjuang untuk mengembalikan pamornya, diberi proyek membuat sebuah lagu buat seorang penyanyi muda yang sedang "naik daun". Nggak sanggup bikin send...